Sosok Nabi Muhammad SAW

-- Bentuk tubuh Rasulullah SAW-
-

Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib ra.
yang pernah hidup bersama
Rasulullah SAW, berkata:

"Saya bertanya kepada paman
saya, Hind bin Abi Halah -yang
selalu berbicara tentang Nabi
yang mulia- untuk menceritakan
kepada saya berkenaan dengan
Nabi, agar kecintaan saya
bertambah. Ia berkata, 'Nabi
Allah sangat berwibawa dan
sangat dihormati. Wajahnya
bersinar seperti purnama. Ia
lebih tinggi dari orang-orang
pendek dan lebih pendek dari
orang-orang jangkung.
Kepalanya agak besar dengan
rambut yang ikal. Bila
rambutnya itu bisa disisir, ia
pasti menyisir rambutnya. Kalau
rambutnya tumbuh panjang, ia
tak akan membiarkannya
melewati daun telinga. Kulit
wajahnya putih dengan dahi
yang lebar. Kedua alisnya
panjang dan lebat, tapi tidak
bertemu.

Di antara kedua alisnya, ada
pembuluh darah melintang yang
tampak jelas ketika beliau
marah. Ada seberkas cahaya
yang menyapu tubuhnya dari
bawah ke atas, seakan-akan
mengangkat tubuhnya.

'Janggutnya pendek dan tebal;
pipinya halus dan lebar.
Mulutnya lebar dengan gigi-gigi
yang jarang dan bersih. Di atas
dadanya ada bulu yang sangat
halus; lehernya seperti batang
perak murni yang indah.
Tubuhnya serasi (semua
anggota tubuhnya sangat
serasi dengan ukuran anggota
tubuh yang lain). Perut dan
dadanya sejajar. Bahunya lebar,
sendi-sendi anggota badannya
gempal. Dadanya bidang. Bagian
tubuhnya yang tidak tertutup
pakaian bersinar terang.
Segaris bulu yang tipis
memanjang dari dada ke
pusarnya. Di luar itu, dada dan
perutnya tidak berbulu sama
sekali. Lengan, bahu dan
pundaknya berbulu. Lengannya
panjang dan telapak tangannya
lebar. Tangan dan kakinya tebal
dan kekar. Jari-jemarinya
panjang. Pertengahan telapak
kakinya melengkung, tidak
menyentuh tanah, air tidak
membasahinya.

Ketika berjalan ia mengangkat
kakinya dari tanah dengan dada
yang dibusungkan. Langkah-
langkahnya lembut. Ia berjalan
cepat seakan-akan menuruni
bukit. Bila berhadapan dengan
seseorang, Ia hadapkan seluruh
tubuhnya, bukan hanya
kepalanya. Matanya selalu
merunduk. Pandangannya ke
arah bumi lebih lama daripada
pandangannya ke langit.
Sesekali ia memandang dengan
pandangan sekilas. Ia selalu
menjadi orang pertama yang
mengucapkan salam kepada
orang yang ditemuinya di jalan.'

-- Cara bicara Rasulullah --

Kemudian Imam Hasan berkata,
"Ceritakan kepadaku cara
bicaranya."

Hind bin Abi Halah berkata, "Ia
selalu tampak sendu, selalu
merenung dalam, dan tidak
pernah tenang. Ia banyak
diamnya. Ia tidak pernah
berbicara yang tidak perlu. Ia
memulai dan menutup
pembicaraannya dengan sangat
fasih. Pembicaraannya singkat
dan padat, tanpa kelebihan
kata-kata dan tidak
kekurangan perincian yan
diperlukan. Ia berbicara lembut,
tidak pernah kasar atau
menyakitkan. Ia selalu
menganggap besar anugerah
Tuhan betapapun kecilnya. Ia
tidak pernah mengeluhkannya.
Ia juga tidak pernah mengecam
atau memuji berlebih-lebihan
apapun yang ia makan

Dunia dan apapun yang ada
padanya tidak pernah
membuatnya marah. Tetapi, jika
hak seseorang dirampas, ia
akan sangat murka sehingga
tidak seorang pun mengenalnya
lagi dan tidak ada satu pun
yang dapat menghalanginya
sampai ia mengembalikan hak itu
kepada yang punya. Ketika
menunjuk sesuatu, ia menunjuk
dengan seluruh tangannya.
Ketika terpesona, ia
membalikkan tangannya ke
bawah. Ketika
berbicara,terkadang ia
bersedekap atau merapatkan
telapak tangan kanannya pada
punggung ibu jari kirinya. Ketika
marah, ia palingkan wajahnya.
Ketika tersinggung, ia
merunduk. Ketika ia tertawa,
gigi-giginya tampak seperti
untaian butir-butir hujan es.

Imam Hasan berkata, "Saya
menyembunyikan berita ini dari
Imam Husain sampai suatu saat
saya menceritakan kepadanya.
Ternyata ia sudah tahu
sebelumnya. Kemudian saya
bertanya kepadanya tentang
berita ini. Ternyata ia telah
bertanya kepada ayahnya
(Imam Ali) tentang Nabi, di dalam
dan di luar rumah, cara
duduknya dan penampilannya,
dan ia menceritakan semuanya."

-Akhlak Rasulullah ketika masuk
rumah-

Imam Husain berkata, "Aku
bertanya kepada ayahku ( Ali
Bin Abi Thalib RA) tentang
perilaku Nabi ketika ia memasuki
rumahnya. Ayahku berkata, 'Ia
masuk rumah kapan saja ia
inginkan. Bila berada di rumah,
ia membagi waktunya menjadi
tiga bagian; sebagian untuk
Allah, sebagian untuk
keluarganya, sebagian lagi
untuk dirinya. Kemudian ia
membagi waktunya sendiri
antara dirinya dan orang lain;
satu bagian khusus untuk
sahabatnya dan bagian lainnya
untuk umum. Ia tidak
menyisakan waktunya untuk
kepentingan dirinya. Termasuk
kebiasaannya pada bagian yang
ia lakukan untuk orang lain ialah
mendahulukan atau
menghormati orang-orang yang
mulia dan ia menggolongkan
manusia berdasarkan
keutamaannya dalam agama. Di
antara sahabatnya, ada yang
mengajukan satu keperluan,
dua keperluan, atau banyak
keperluan lain. Ia menyibukkan
dirinya dengan keperluan
mereka. Jadi, ia menyibukkan
dirinya untuk melayani mereka
dan menyibukkan mereka
dengan sesuatu yang baik bagi
mereka.

"Ia sering menanyakan keadaan
sahabatnya dan memberi tahu
mereka apa yang patut mereka
lakukan. 'mereka yang hadir
sekarang ini harus
memberitahukan kepada yang
tidak hadir. Beritahukan
kepadaku orang yang tidak
sanggup menyampaikan
keperluannya kepadaku. Orang
yang menyampaikan kepada
pihak yang berwenang keluhan
seseorang yang tidak sanggup
menyampaikannya, akan Allah
kokohkan kakinya pada Hari
Perhitungan'. Selain hal-hal
demikan, tidak ada yang
disebut-sebut dihadapannya
dan tidak akan diterimanya.
Mereka datang menemui beliau
untuk menuntut ilmu dan
kearifan. Mereka tidak bubar
sebelum mereka menerimanya.
Mereka meninggalkan majlis Nabi
sebagai pembimbing untuk
orang di belakangnya.'

--Akhlak Rasulullah di luar
rumah--

"Aku bertanya kepadanya
tentang tingkah laku Nabi yang
mulia di luar rumahnya. Ia
menjawab, 'Nabi itu pendiam
sampai ia merasa perlu untuk
bicara. Ia sangat ramah kepada
setiap orang. Ia tidak pernah
mengucilkan seorang pun dalam
pergaulannya. Ia menghormati
orang yang terhormat pada
setiap kaum dan memerintahkan
mereka untuk menjaganya
kaumnya. Ia selalu berhati-hati
agar berperilaku yang tidak
sopan atau menunjukkan wajah
yang tidak ramah kepada
mereka. Ia suka menanyakan
keadaan sahabat-sahabatnya
dan keadaan orang-orang di
sekitar mereka, misalnya
keluarganya atau tetangganya.
Ia menunjukkan yang baik itu
baik dan memperkuatnya. Ia
menunjukkan yang jelek itu
jelek dan melemahkannya. Ia
selalu memilih yang tengah-
tengah dalam segala urusannya.'

"Ia tidak pernah lupa
memperhatikan orang lain
karena ia takut mereka alpa
atau berpaling dari jalan
kebenaran. Ia tidak pernah
ragu-ragu dalam kebenaran dan
tidak pernah melanggar batas-
batasnya. Orang-orang yang
paling dekat dengannya adalah
orang-orang yang paling baik.
Orang yang paling baik, dalam
pandangannya, adalah orang-
orang yang paling tulus
menyayangi kaum muslimin
seluruhnya. Orang yang paling
tinggi kedudukannya disisinya
adalah orang yang paling
banyak memperhatikan dan
membantu orang lain.'"

--Cara Rasulullah duduk--

Imam Husain berkata, "Kemudian
aku bertanya kepadanya
tentang cara Rasulullah duduk.
Ia menjawab, 'Rasulullah tidak
pernah duduk atau berdiri
tanpa mengingat Allah. Ia tidak
pernah memesan tempat hanya
untuk dirinya dan melarang
orang lain duduk di situ. Ketika
datang di tempat pertemuan, ia
duduk dimana saja tempat
tersedia. Ia juga menganjurkan
orang lain untuk berbuat yang
sama. Ia memberikan tempat
duduk dengan cara yang sama
sehingga tidak ada orang yang
merasa bahwa orang lain lebih
mulia ketimbang dia. Ketika
seseorang duduk di
hadapannya, ia akan tetap
duduk dengan sabar sampai
orang itu berdiri atau
meninggalkannya. Jika orang
meminta sesuatu kepadanya, ia
akan memberikan tepat apa
yang orang itu minta. Jika tidak
sanggup memenuhinya, ia akan
mengucapkan kata-kata yang
membahagiakan orang itu.
Semua orang senang pada
akhlaknya sehingga ia seperti
ayah bagi mereka dan semua ia
perlakukan dengan sama.

Majlisnya adalah majlis
kesabaran, kehormatan,
kejujuran dan kepercayaan.
Tidak ada suara keras di
dalamnya dan tidak ada
tuduhan-tuduhan yang buruk.
Tidak ada kesalahan orang yang
diulangi lagi di luar majlis.
Mereka yang berkumpul dalam
pertemuan memperlakukan
sesamanya dengan baik dan
mereka satu sama lain terikat
dalam kesalehan. Mereka
rendah hati, sangat
menghormati yang tua dan
penyayang kepada yang muda,
dermawan kepada yang fakir,
dan ramah kepada pendatang
dari luar.'

--Cara Rasulullah bergaul
dengan sahabatny--

"Aku bertanya kepadanya
bagaimana Rasulullah bergaul
dengan sahabat-sahabatnya. Ia
menjawab, 'Rasulullah ceria,
selalu lembut hati, dan ramah. Ia
tidak kasar dan tidak berhati
keras. Ia tidak suka membentak-
bentak. Ia tidak pernah berkata
kotor, tidak suka mencari-cari
kesalahan orang, juga tidak
suka memuji-muji berlebihan.Ia
mengabaikan apa yang tidak
disukainya dalam perilaku orang
begitu rupa sehingga orang
tidak tersinggung dan tidak
putus asa. Ia menjaga dirinya
untuk tidak melakukan tiga hal:
bertengkar, banyak omong, dan
berbicara yang tidak ada
manfaatnya.Ia juga menghindari
tiga hal dalam hubungannya
dengan orang lain: mengecam
orang, mempermalukan orang,
dan mengungkit-ungkit
kesalahan orang.

Ia tidak pernah berkata kecuali
kalau ia berharap memperoleh
anugerah Tuhan. Bila ia
berbicara, pendengarnya
menundukkan kepalanya,
seakan-akan burung
bertengger di atas kepalanya.
Baru kalau ia diam,
pendengarnya berbicara.
Mereka tidak pernah berdebat
di hadapannya. Jika salah
seorang di antara mereka
berbicara, yang lain
mendengarkannya sampai ia
selesai. Mereka bergiliran untuk
berbicara di hadapannya. Ia
tertawa jika sahabatnya
tertawa; ia juga terkagum-
kagum jika sahabatnya
terpesona. Ia sangat penyabar
kalau ada orang baru bertanya
atau berkata yang tidak sopan,
walaupun sahabat-sahabatnya
keberatan.Ia biasanya berkata,
"Jika kamu melihat orang yang
memerlukan pertolongan,
bantulah ia." Ia tidak menerima
pujian kecuali dari orang yang
tulus.

Wanitaku Pemuliaku

Sesungguhnya setiap jiwa
menua untuk sesuatu.

Ada yang menua untuk menjadi
pribadi yang bernilai,
dan ada yang menua untuk
menyesalkan usia muda yang
telah disia-siakannya.

Tidak ada karir dan
kehidupan yang berjalan
datar.

If we are not going up, we
are certainly going down.

Jika kita tidak sedang dalam
perjalanan naik, kita pasti
sedang dalam perjalanan turun.

Memang itu tidak enak di
dengar, tetapi akan lebih tidak
enak lagi masa depan kita - jika
kita tidak menjadikan diri ini
lebih tabah, lebih bersungguh-
sungguh, dan lebih berani.

Marilah kita perhatikan, bahwa...

Semua nasehat bagi
kebaikan kita, selalu
sederhana.
Yang tidak sederhana
adalah pelaksanaannya.

Karena,...

Kesulitan dalam
memperbaiki sesuatu,
sangat ditentukan oleh
besarnya kerusakan yang
kita sebabkan sebelumnya.

Jika pengabaian kehidupan
yang kita lakukan sebelum
hari ini - besar, maka
kesungguhan yang dituntut
dari kita untuk
memperbaiki diri - tidak
mungkin kecil.

Maka,...

Jika kita TIDAK sedang
membaikkan kehidupan,
setidaknya kita TIDAK
mempersulit diri sendiri.

Dan, jika ada orang yang hanya
terkesan oleh nasehat yang
panjang dan pelik, dia pasti
orang yang tindakannya
sederhana - yaitu mengabaikan
nasehat.

Maka, temukan dan muliakanlah
nasehat-nasehat kebaikan yang
sederhana, agar sederhana
juga bagi Anda untuk
menyegerakan tindakan untuk
memulai.

Semakin panjang
perjalanan Anda, harus
semakin segera Anda
memulainya.

Dan,...

Dalam perjalanan naik
itulah, kita menjangkarkan
diri kita untuk setia kepada
hal-hal yang benar dan
yang menaikkan.

Jika kita kesulitan menemukan
titik berangkat untuk mencapai
impian kehidupan kita,
gunakanlah PEMULIAAN WANITA
ANDA sebagai landasan luncur
menuju karir dan kehidupan
kebintangan Anda.

Muliakanlah wanita dalam
kehidupan Anda.

Ibunda Anda, istri Anda, anak
wanita Anda, saudara wanita
Anda, nenek Anda, guru wanita
Anda, dan semua wanita di
dunia...

Ingatlah, bahwa...

Tidak ada pria yang lebih
gallant dan attractive,
yang disyukuri dan
dirindukan kehadirannya
oleh wanita,
selain pria yang
menjatuhkan semua
bawaan-nya dan
meninggalkan semua
kesenangan pribadinya -
untuk menggembirakan
wanitanya.

...........

WANITA YANG DIMULIAKAN
OLEH PRIANYA,
AKAN MENJADI WANITA
MULIA, YANG MEMULIAKAN
PRIANYA.

Pria yang mudah menerima
pencurahan cinta dari
wanitanya, adalah dia yang
bersedia meminta maaf,
meski pun dia tidak
bersalah.

Tidak ada wanita yang akan
menyia-nyiakan pria-nya yang
tidak bersalah, tetapi yang
ikhlas 'menghibur' wanita
kecintaannya, dengan
'mengambil alih' kesalahan sang
wanita.

Bagi wanita, tindakan 'kecil' itu
adalah langkah anggun
keperwiraan seorang pria.

Pria seperti itu sangat percaya
diri, karena ke-pria-annya tidak
akan terganggu oleh
penyerapan dari semua
kesalahan yang ada di dalam
keluarganya. Dia tidak
kehilangan kedamaian mengenai
yang benar di dalam dirinya,
hanya karena dia meminta maaf
- sebagai cara untuk
membahagiakan wanitanya.

Minta maaf-lah kepada Ibu
Anda, walau pun Anda tidak
bersalah; karena beliau telah
ikhlas menjadikan diri dan
kehidupannya sebagai saluran
kehadiran Anda dalam tugas
kepemimpinan Anda di dunia ini.

Minta maaf-lah kepada istri
Anda, meski pun Anda tidak
bersalah, karena dia telah
bersedia melahirkan anak-anak
Anda, dan ikhlas menua bersama
Anda - sambil menunggu janji-
janji Anda yang belum kunjung
mewujud.

Karir yang utama dan
terbaik dalam kehidupan
ini, adalah keluarga.

Jika ada yang meragukan
nasehat sederhana itu, mohon
Anda sampaikan beberapa
kalimat yang berikut ini:

Tujuan dari semua
keberhasilan adalah pulang
ke rumah dalam perasaan
damai.

Karena, apakah guna dari
semua keberhasilan, jika kita
tidak damai?

Keluarga adalah kehidupan
kita yang sebenarnya.
Tidak ada siapa pun yang
bisa disebut berhasil, jika
dia tidak membahagiakan
keluarganya.

Karena,

Orang yang menelantarkan
keluarganya untuk
membahagiakan keluarga
orang lain, adalah sepalsu-
palsunya orang.

...........

Sahabat saya yang super,
marilah kita mensyukuri
keberadaan kita di dalam
keluarga kita.

Bersabarlah dengan
masalah-masalah yang ada
dalam keluarga Anda.

Janganlah berharap Anda
dilahirkan dalam keluarga lain,
karena itu tidak akan pernah
terkabul. Dan janganlah
berharap Anda berada dalam
pernikahan lain, karena Anda-
lah yang memutuskan untuk
menikah.

Tumbuhkanlah diri Anda untuk
menjadi pribadi yang lebih kuat
daripada masalah-masalah Anda.

Kita tidak mungkin
diberikan masalah yang
tidak bisa kita selesaikan.
Tuhan memberi-tahu
bahwa kita sudah naik
kelas dalam kemampuan
kita, dengan memberikan
masalah yang lebih besar.

Ingatlah, bahwa...

Masalah adalah rahmat
yang tidak kita sukai
rasanya.

...........

Pilihlah untuk menjadi
pribadi yang berbahagia.

Kemampuan asli untuk
berbahagia, sudah ada di dalam
diri Anda.
Gunakanlah. Anda berhak untuk
berbahagia.

Jangan syaratkan orang
lain untuk menjadi baik
lebih dulu, sebelum Anda
bersedia untuk
meramahkan diri.

Mulailah dengan tindakan-
tindakan kecil yang bisa Anda
lakukan untuk menjadi pribadi
baik, yang tulus, yang ramah,
dan yang ikhlas menerima,

bahwa,...

tidak mungkin Tuhan sampai
hati membiarkan Anda, sebagai
jiwa kecintaan-Nya, berlama-
lama dalam penistaan dan
pelukaan oleh orang-orang
yang sampai hati.

Tuhan mendengar rintihan hati
Anda dan melihat rambat lambat
turunnya butir-butir air mata
itu, jauh sebelum Anda terluka
oleh perendahan dan
penyepelean itu.

Apakah Tuhan sampai hati
membiarkan jiwa kecintaan-Nya
ini - mengabaikan semua haknya
untuk kesejahteraan dan
kemuliaan, dan menukarkannya
dengan permintaan sederhana
agar ia dibebaskan dari pilunya
hati?

Bersabarlah.

Mereka yang 'menjahati'
kita itu, sebetulnya tidak
ingin berlaku jahat kepada
kita.

Mereka sedang sebetulnya
diperankan oleh Tuhan
untuk menjadi pribadi yang
menguji keberserahan kita
kepada Tuhan.

Sabarkanlah diri Anda.

Semua yang terjadi, terjadi
karena kehendak Tuhan.
Semua yang terjadi, terjadi
dengan tujuan untuk
memuliakan Anda.

Dan ingatlah, bahwa...

Keburukan yang
menjadikan kita baik,
adalah kebaikan.


Sumber : Mario Teguh

Melihat ke Bawah Tradisi Orang Kalah ?

Saat bersepeda ke Tokyodome minggu pagi lalu, anak saya
yang kedua, Nasywa bilang "kita sekarang miskin ya, kalo dulu jalan-jalan naik mobil, sekarang
cuma naik sepeda". Belum
sempat saya menjawab, anak
saya yang pertama, Haidar
langsung merespon "bukan kita yang miskin, tapi orang-orang itu (sambil menunjuk orang-orang jepang yang sedang berjalan), kita masih naik sepeda, mereka cuma jalan kaki".

"Alhamdulillah",
dalam hati saya berkata. Tentu saya gembira
karena anak saya yang
pertama mulai belajar
bagaimana memposisikan diri diantara lingkungan yang
dihadapi. Ketika kita melihat "ketiadaan" dalam diri kita,
maka yang lahir adalah
kehausan dan kegelisahan.
Sementara ketika kita melihat
ke "ada" an, melihat segala apa
yang kita miliki dan nikmati,
maka yang lahir adalah
kecukupan dan ketentraman.

Mungkin sebagian orang akan
mengatakan bahwa pesan
"hidup harus melihat kebawah"
adalah hal yang "klise", bahkan
teman saya menyebutnya
sekedar jargon kosong yang
hanya cocok dipegang oleh
mereka-mereka yang gagal
dalam kehidupan. "Melihat
kebawah" dianggapnya sebagai
candu yang menyebabkan
seseorang menjadi tidak
produktif. "Melihat ke bawah
adalah tradisi orang kalah",
begitu teman saya mengatakan.

Dunia, menurut orang bijak,
bagaikan air laut, semakin
banyak diminum bukan semakin
hilang dahaga, tapi sebaliknya,
semakin haus, semakin
rakus.
Itulah sebabnya materi tidak boleh menjadi satu-satunya obat reformasi
birokrasi. Kasus-kasus hukum
yang terjadi menunjukkan hal
itu. Koruptor-koruptor besar
bukanlah mereka yang bergaji
kecil. Anggota DPR dan DPRD
korupsi bukan karena gaji
mereka kecil, Wali kota, Bupati,
Gubernur yang korupsi bukan
karena gaji mereka lebih rendah
dari rakyat kebanyakan yang
tidak korupsi, Pejabat-pejabat
Bank Indonesia yang korupsi
bukan karena mereka tidak
makmur hidupnya, konglomerat
hitam yang telah merampok dan
membawa lari uang Negara
bukan karena hidup mereka
kurang sejahtera.

Dalam perspektif material, dunia
yang telah berubah menjadi
rumah besar bagi para
konsumen, sangat sulit
merumuskan berapa tingkat
pendapatan yang dianggap
cukup agar seseorang tidak
tertarik untuk melakukan
tindakan korup. Kenyataannya
perilaku konsumsi dan
kapasistas konsumsi manusia
berubah dengan berubahnya
pendapatan. Sehingga antara
pendapatan dan tingkat
konsumsi selalu berkejar-
kejaran dan tidak pernah
tuntas sampai tanah kuburan
menuntaskannya. Inilah lautan
yang merasuk ketenggorokan
manusia yang menyebabkannya
selalu haus, selalu ingin minum,
minum dan minum lagi.

Saya teringat pesan seorang
teman ketika dia mengatakan
"sesungguhnya orang-orang
bijak menjadikan dunia sebagai
sarana memperbanyak bekal di
hari akhir nanti, sehingga
mereka tidak terjebak dalam
siklus kehausan akibat lautan
dunia". Senantiasa melihat ke
"bawah" bukan hanya
menyebabkan kita tentram, tapi
juga membawa kita berlepas diri
dari jebakan lingkaran kehausan
dunia yang berpotensi
menenggelamkan kita dalam
prosesi kehinaan di dunia
(penjara) maupun akhirat
(neraka).


Semoga kita mampu!

Oleh : Mukhamad Najib

Sesatkah Ajaran Sufi

Tarekat adalah sebutan untuk orang-orang sufi yang menjadikan berbagai
cara/jalan/metode bagi diri
mereka, seperti : Tarekat
Jailaniah, Rifa'iyah, Syadziiah dan lainnya.

Pada umumnya mereka adalah tarekat-tarekat bid'ah yang tidak memiliki keterkaitan dengan syara' akan tetapi merupakan buah karya dari para pemiliknya sendiri. Mereka
menentukan berbagai doa-baik yang masyru' maupun tidak masyru'-bagi tarekatnya dengan jumlah-jumlah tertentu, dengan gerakan-gerakan tertentu di waktu-waktu tertentu dan lainnya dengan anggapan bahwa hal itu dapat membersihkan diri mereka, menyucikan hati mereka dan mengantarkan mereka ke kedudukan wali yang paling tinggi.

Didalam tarekat-tarekat ini
terdapat berbagai
penyimpangan syar'iyah yang bertentangan dengan akal sehat dan fitrah yang lurus.
Karena itu kebanyakan dari
para penganut tarekat
membuat berbagai persyaratan untuk mengenal dan memahami
tarekat-tarekatnya-seperti
yang mereka inginkan-dengan talaqqi langsung dari para syeikh tarekat dan mewajibkan kepada orang-orang yang
bertalaqqi agar menghilangkan akal dan pemahamannya ketika
bertalaqqi dari syeikhnya yang memberikan kepadanya berbagai syubhat dan kebatilan
sedikit-demi sedikit serta
meletakkan kaidah zhalim ini :
"Jadilah kamu dihadapan guru seperti mayat dihadapan orang
yang memandikannya."

Mereka berkata,"Diantara sikap kurang beradab dan sebab-sebab pengharaman adalah menentang syeikh, bertanya kepadanya tentang dalil, seperti
ada ungkapan 'barangsiapa
yang mengikuti seorang syeikh kemudian menentangnya maka
orang itu telah sesat' atau
ungkapan-ungkapan lainnya
yang mengandung kebatilan.
Untuk itu diharuskan bagi ahli kebenaran-ahlus sunnah wal jama'ah-agar menyingkap kesalahan dan menerangkan kebatilannya bahwa ia adalah cara-cara yang menyimpang dan jalan-jalan yang jauh dari
petunjuk Nabi saw dan para
sahabatnya.

Al Alusiy didalam kitabnya
"Ghoyah al Amaniy fii ar Rodd 'ala an Nabhaniy" mengatakan bahwa musibah yang paling besar terhadap agama dan negara yang menimpa manusia pada masa sekarang ini adalah
perlakuan bid'ah ar Rifa'iyah.

Tidaklah terdapat suatu bid'ah kecuali bersumber dari mereka, berasal dari mereka. Dzikir mereka bagaikan sebuah tarian
dan nyanyian, berlindung
kepada selain Allah, ibadah dan amal-amal para syeikh mereka bagaikan menggenggam ular.

Cukuplah bukti yang
menjelaskan kebatilan dan
penyimpangan tarekat-tarekat
ini yaitu anggapan bahwa
tarekat ini bisa mencapai
kesempurnaan kewalian yang
memiliki kedudukan lebih tinggi
dari kedudukan nubuwah
(kenabian) disisi mereka,
sebagaimana perkataan orang
yang mengatakan bahwa
kedudukan nubuwah di barzakh
sedikit diatas rasul dan berbeda
dengan wali." Dan perkataan al
Busthami,"Kami menyelami
samudra sementara para Nabi
hanya berada di tepiannya."

Pelampauan batas mereka yang
lebih besar dari itu adalah
pengakuan kebanyakan dari
mereka bahwa mereka memiliki
kekhususan dari Allah swt,
seperti perkataan al
Halaj,"Kalaulah bukan tali
kekang syariat terhadap
lidahku pastilah aku
memberitahu kalian tentang apa
ang akan terjadi besok dan
juga lusa hingga hari kiamat."
Pengakuan terhadap
pengetahuan ghaib seperti ini
adalah kekufuran.

Dia juga menegaskan aqidah al
Hulul (Tuhan mengambil tubuh
manusia tertentu untuk tempat-
Nya) dan al Ittihad (dirinya
bersatu dengan Tuhan)....

Ringkasnya : bahwa tarekat-
tarekat dan wirid-wirid yang
dilantunkan orang-orang sufi
adalah cara-cara yang batil,
dzikir-dzikir yang dibuat-buat
meski terkadang masyru'
(sesuai syariat) secara dzatnya
akan tetapi tetapi dicampur-
campur dengan yang lainnya,
dilantunkan dengan cara-cara
dan bentuk-bentuk yang keluar
dari pokok disyariatkannya
dzikir-dzikir itu.

Sedangkan cara yang benar
adalah yang menghubungkannya
dengan Allah dan merealisasikan
kecintaan terhadap-Nya dan
redho kepada-Nya, inilah
tarekat nabi kita Muhammad
saw, para khalifah dan sahabat-
sahabatnya, para tabi'in, orang-
orang setelah mereka yang
mengikutinya hingga hari kiamat.

Firman Allah swt :

وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ
لَأَسْقَيْنَاهُم مَّاء غَدَقًا

Artinya : "Dan bahwasanya:
jikalau mereka tetap berjalan
lurus di atas jalan itu (agama
Islam), benar-benar Kami akan
memberi minum kepada mereka
air yang segar (rezki yang
banyak)." (QS. Al Jin : 16)

Ia adalah tarekat (jalan) yang
satu bukan jalan-jalan lain, ia
adalah jalan satu yang lurus,
jalan yang satu bukan jalan-
jalan yang banyak, firman Allah
swt :

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ
وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن
سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya : "Dan bahwa (yang Kami
perintahkan ini) adalah jalan-Ku
yang lurus, Maka ikutilah Dia,
dan janganlah kamu mengikuti
jalan-jalan (yang lain), karena
jalan-jalan itu mencerai
beraikan kamu dari jalanNya.
yang demikian itu diperintahkan
Allah agar kamu bertakwa." (QS.
Al An'am : 153)

Jalan inilah yang dilalui oleh nabi
kita Muhammad saw dan para
sahabatnya. Karena itu Allah
swt berfirman :

فَإِنْ آمَنُواْ بِمِثْلِ مَا آمَنتُم بِهِ فَقَدِ
اهْتَدَواْ وَّإِن تَوَلَّوْاْ فَإِنَّمَا هُمْ فِي
شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللّهُ وَهُوَ
السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Artinya : "Maka jika mereka
beriman kepada apa yang kamu
telah beriman kepadanya,
sungguh mereka telah
mendapat petunjuk; dan jika
mereka berpaling,
Sesungguhnya mereka berada
dalam permusuhan (dengan
kamu). Maka Allah akan
memelihara kamu dari mereka.
dan Dia-lah yang Maha
mendengar lagi Maha
mengetahui." (QS. Al Baqoroh :
137)

Didalam riwayat Tirmidzi dari
Nabi saw bersabda,"Hendaklah
kalian berpegang dengan
sunnahku dan sunnah para
khalifah rasydin yang telah
mendapatkan petunjuk
setelahku. Peganglah itu dan
gigitlah ia dengan graham. Dan
waspadalah kalian dengan
perkara-perkara yang baru,
sesungguhnya setiap bid'ah
adalah sesat."

Pada akhirnya perlu kiranya
mengingatkan dua hal penting :

1. Tidak seyogyanya mengecam
tashawuf secara mutlak. Akan
tetapi di sana terdapat pula
tashawuf yang benar yang
berpegang dengan aturan-
aturan syariat untuk
mensucikan dan membersihkan
jiwa. Inilah yang dilakukan oleh
sebagian ulama, orang-orang
zuhud pada masa-masa awal
sebelum masuknya berbagai
penyimpangan dan bid'ah pada
diri orang-orang tashawwuf
(sufi).

2. Bahwa ilmu tentang keadaan
hati atau yang disebut dengan
Ilmu Suluk tidaklah diambil
kecuali dari orang-orang yang
aqidahnya benar, istiqomah
perbuatannya, mengikatkan
berbagai urusannya dengan al
Qur'an dan Sunnah yang shahih.
Tidaklah sepatutnya melakukan
penipuan dengan perbuatan
sebagian para pelaku bid'ah dan
kerasnya ibadah mereka, maka
perkara ini sebagaimana
dikatakan Sufyan-semoga Allah
merahmatinya -bahwa jika
seseorang melakukan
perbuatan bid'ah maka
sesungguhnya setan telah
melemparkan kepadanya bentuk
ibadah untuk menjaring
mereka." (Markaz al Fatwa,
fatwa No. 13742)

Wallahu A'lam

About Me

Aku adalah seorang manusia biasa yang ingin menuangkan pikiran ku tentang inspirasi, motivasi dan sebagainya melalui rangkaian kata yang tersusun menjadi sebuah kalimat.

My nick name is Gunsi.

Untuk artikel yang saya posting sebagian bersumber dari luar dan untuk menghargai karya orang lain maka saya selalu mencantumkan sumbernya.

Akhir kata thanks for all support n keep hard work.

About Me

Aku adalah seorang manusia biasa yang ingin menuangkan pikiran ku tentang inspirasi, motivasi dan sebagainya melalui rangkaian kata yang tersusun menjadi sebuah kalimat.

My nick name is Gunsi.

Untuk artikel yang saya posting sebagian bersumber dari luar dan untuk menghargai karya orang lain maka saya selalu mencantumkan sumbernya.

Akhir kata thanks for all support n keep hard work.

Dermawan Misterius

Penduduk Madinah gempar,
pasalnya mereka mendapat
kabar bahwa di rumah-rumah orang miskin selalu terkirim sekarung gandum yang digeletakan didepan pintu. Itu terjadi selama bertahun-tahun.
Karung gandum itu datang lagi ketika persediaan gandum mereka sudah
menipis.Seseorang telah
mengirimkan gandum itu ketika mereka terlelap tidur.

Nampaknya lai-laki dermawan ini sangat hati-hati agar tidak dikenali masyarakat, Karena
orang-orang selalu gagal
memergoki Sang pengirim
misterius ini. Padahal nereka hanya ingin mengucapkan terima kasih dan mengatakan betapa sangat berartinya sekarung gandum itu untuk keluarga mereka.

Walau berita ini menggemparkan, tapi sampai bertahun-tahun tidak ada seorangpun yang mengaku sebagai pengirim gandum tersebut. Memahami sang pengirim tidak mau diketahui
identitasnya, maka penduduk miskin itu hanya mengirimkan doa ketika mendapati gandum
tergeletak didepan pintu, agar Alloh SWT memuliakan sang dermawan di dunia dan di akhirat.

Suatu malam, setelah
menyelesaikan sholat
malam,Zainal Abidin berjalan tertatih-tatih dalam kegelapan.
Dia memastikan malam itu sepi dan tidak ada seorangpun di jalanan. Kakinya menahan beban
berat yang dia pikul.

Tiba-tiba seseorang melompat dari semak belukar. Lalu menghadangnya! "Hei! Serahkan semua harta kekayaanmu! Kalau
tidak...," orang bertopeng itu mengancam dengan sebilah pisau tajam ke leher Zainal Abidin.

Beberapa saat Zaenal Abidin
terperangah. "Ayo cepat! Mana uangnya?!" gertak orang itu sambil mengacungkan pisau.
Zaenal Abidin dengan sekuat
tenaga melemparkan karung itu ke tubuh sang perampok sehingga membuat orang bertopeng itu terjengkang keras ke tanah. Zaenal Abidin
segera menarik topeng yang menutupi wajahnya.

"Siapa kau?!" tanya Zaenal
Abidin sambil memperhatikan wajah orang itu.
"Ampun, Tuan....jangan siksa
saya...saya hanya orang
miskin...,"katanyaketakutan.
"Kenapa kaumerampokku?"
Tanya Zaenal Abidin kemudian.
"Maafkan saya, terpaksa saya merampok karena anak-anak saya kelaparan," sahutnya dengan wajah pucat.

"Baik! Kau kulepaskan. Dan
bawalah karung makanan ini
untuk anak-anakmu...." kata Ali Zaenal abidin.

Beberapa saat orang itu
terdiam. Hanya memandangi
Zaenal Abidin dengan takjub.
"Sekarang pulanglah!" kata
Zaenal Abidin. Orang itu pun
bersimpuh di depan Ali sambil menangis. "Tuan, terima kasih!
Tuan sangat baik dan mulia!
Saya bertaubat kepada
Allah...saya berjanji tidak akan mengulanginya," kata orang itu penuh sesal.

Zaenal Abidin mengangguk-
anggukkan kepalanya. "Hai,
orang yang bertaubat!
Sungguh, Allah Maha
pengampun."

"Aku minta, jangan kau
ceritakan kepada siapapun
tentang pertemuanmu
denganku pada malam ini...," kata Zaenal Abidin sebelum orang itu pergi. Pencuri itu pun berjanji. Pencuri Heran mengapa
Zaenal Abidin melarang
menceritakan pertemuannya malam itu...

oOo

Suatu ketika saat wafatnya
Imam Ali Zainal Abidin, orang yang memandikan jenazahnya heran melihat bekas-bekas hitam di punggung jenazah Imam
Ali Zaenal Abidin.

Lalu mereka pun bertanya,"Dari manakah asal bekas-bekas
hitam ini? Ini seperti bekas
benda yang dipikul setiap hari ? Dari mana beliau mendapat bekas ini? " Orang-orang keheranan. mengingat Imam Ali
Zaenal abidin adalah Ulama
besar, tetapi memiliki punggung menghitam seperti pengangkut
barang ( kuli ) pasar.

"Itu adalah bekas karung-
karung tepung dan gandum
yang biasa diantarkan Imam Ali Zaenal Abidin ke seratus rumah di Madinah pada malam hari "

kata mantan pencuri yang telah bertaubat itu dengan rasa haru. Ia membocorkan rahasia yang tak terpecahkan selama
bertahun-tahun

Menangislah orang-orang miskin yang selama ini selalu mendapat bantuan dari Ali Zaenal Abidin.
Mereka baru tahu darimana
datangnya Gandum yang
menghidup keluarga mereka selama ini. Selama bertahun-tahun mereka tidak berhasil memergoki Sang Dermawan Mulia untuk mengucapkan terima kasih. Mereka baru mengetahui Lelaki mulia itu adalah : Ali Bin Husein Bin Ali bin
Abi Thalib. Cucu Sahabat Ali bin Abi Thalib RA, sekaligus Cicit dari Rosululloh SAW.

Berkata Ibnu 'Aisyah: Ayahku berkata kepadaku: "Saya
mendengar penduduk Madinah berkata: "Kami tidak pernah kehilangan sedekah yang tersembunyi hingga meninggalnya Ali bin Husain" ( Sifatus Sofwah (2/96), Aina Nahnu hal. 9.)

"Zaenal Abidin" adalah gelar
yang diberikan ummat islam
kepada beliau. "Zaenal Abidin" artinya : Orang yang Indah Ibadahnya.Beliau juga punya gelas "As-sajad" artinya Orang yang lama sujudnya. Meninggal pada tahun 95 H/713 M dalam
usia 57 tahun. Dimakamkan di pemakaman Baqi, Madinah.

Sumber : Sifatus Sofwah (2/96), Aina Nahnu/9
oOo

Dari Ibnu Mas'ud. Rasululloh SAW bersabda :"Sesungguhnya
sedekah dengan tersembunyi
memadamkan kemarahan Alloh"
(As-Shohihah 4/539, hadits no. 1908)

"Tujuh golongan yang berada dibawah naungan Allah pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan Allah, Imam
yang adil, dan seorang yang
bersedekah lalu dia
menyembunyikannya hingga
tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya" [ HR Al-
Bukhori (1423) dan Muslim
(2377)]

Ya Alloh selamatkan amal-amal Kami, masukkan kami dalam hamba-Mu yang kau beri naungan di akhirat... amiin

 
powered by Blogger