Sesatkah Ajaran Sufi

Tarekat adalah sebutan untuk orang-orang sufi yang menjadikan berbagai
cara/jalan/metode bagi diri
mereka, seperti : Tarekat
Jailaniah, Rifa'iyah, Syadziiah dan lainnya.

Pada umumnya mereka adalah tarekat-tarekat bid'ah yang tidak memiliki keterkaitan dengan syara' akan tetapi merupakan buah karya dari para pemiliknya sendiri. Mereka
menentukan berbagai doa-baik yang masyru' maupun tidak masyru'-bagi tarekatnya dengan jumlah-jumlah tertentu, dengan gerakan-gerakan tertentu di waktu-waktu tertentu dan lainnya dengan anggapan bahwa hal itu dapat membersihkan diri mereka, menyucikan hati mereka dan mengantarkan mereka ke kedudukan wali yang paling tinggi.

Didalam tarekat-tarekat ini
terdapat berbagai
penyimpangan syar'iyah yang bertentangan dengan akal sehat dan fitrah yang lurus.
Karena itu kebanyakan dari
para penganut tarekat
membuat berbagai persyaratan untuk mengenal dan memahami
tarekat-tarekatnya-seperti
yang mereka inginkan-dengan talaqqi langsung dari para syeikh tarekat dan mewajibkan kepada orang-orang yang
bertalaqqi agar menghilangkan akal dan pemahamannya ketika
bertalaqqi dari syeikhnya yang memberikan kepadanya berbagai syubhat dan kebatilan
sedikit-demi sedikit serta
meletakkan kaidah zhalim ini :
"Jadilah kamu dihadapan guru seperti mayat dihadapan orang
yang memandikannya."

Mereka berkata,"Diantara sikap kurang beradab dan sebab-sebab pengharaman adalah menentang syeikh, bertanya kepadanya tentang dalil, seperti
ada ungkapan 'barangsiapa
yang mengikuti seorang syeikh kemudian menentangnya maka
orang itu telah sesat' atau
ungkapan-ungkapan lainnya
yang mengandung kebatilan.
Untuk itu diharuskan bagi ahli kebenaran-ahlus sunnah wal jama'ah-agar menyingkap kesalahan dan menerangkan kebatilannya bahwa ia adalah cara-cara yang menyimpang dan jalan-jalan yang jauh dari
petunjuk Nabi saw dan para
sahabatnya.

Al Alusiy didalam kitabnya
"Ghoyah al Amaniy fii ar Rodd 'ala an Nabhaniy" mengatakan bahwa musibah yang paling besar terhadap agama dan negara yang menimpa manusia pada masa sekarang ini adalah
perlakuan bid'ah ar Rifa'iyah.

Tidaklah terdapat suatu bid'ah kecuali bersumber dari mereka, berasal dari mereka. Dzikir mereka bagaikan sebuah tarian
dan nyanyian, berlindung
kepada selain Allah, ibadah dan amal-amal para syeikh mereka bagaikan menggenggam ular.

Cukuplah bukti yang
menjelaskan kebatilan dan
penyimpangan tarekat-tarekat
ini yaitu anggapan bahwa
tarekat ini bisa mencapai
kesempurnaan kewalian yang
memiliki kedudukan lebih tinggi
dari kedudukan nubuwah
(kenabian) disisi mereka,
sebagaimana perkataan orang
yang mengatakan bahwa
kedudukan nubuwah di barzakh
sedikit diatas rasul dan berbeda
dengan wali." Dan perkataan al
Busthami,"Kami menyelami
samudra sementara para Nabi
hanya berada di tepiannya."

Pelampauan batas mereka yang
lebih besar dari itu adalah
pengakuan kebanyakan dari
mereka bahwa mereka memiliki
kekhususan dari Allah swt,
seperti perkataan al
Halaj,"Kalaulah bukan tali
kekang syariat terhadap
lidahku pastilah aku
memberitahu kalian tentang apa
ang akan terjadi besok dan
juga lusa hingga hari kiamat."
Pengakuan terhadap
pengetahuan ghaib seperti ini
adalah kekufuran.

Dia juga menegaskan aqidah al
Hulul (Tuhan mengambil tubuh
manusia tertentu untuk tempat-
Nya) dan al Ittihad (dirinya
bersatu dengan Tuhan)....

Ringkasnya : bahwa tarekat-
tarekat dan wirid-wirid yang
dilantunkan orang-orang sufi
adalah cara-cara yang batil,
dzikir-dzikir yang dibuat-buat
meski terkadang masyru'
(sesuai syariat) secara dzatnya
akan tetapi tetapi dicampur-
campur dengan yang lainnya,
dilantunkan dengan cara-cara
dan bentuk-bentuk yang keluar
dari pokok disyariatkannya
dzikir-dzikir itu.

Sedangkan cara yang benar
adalah yang menghubungkannya
dengan Allah dan merealisasikan
kecintaan terhadap-Nya dan
redho kepada-Nya, inilah
tarekat nabi kita Muhammad
saw, para khalifah dan sahabat-
sahabatnya, para tabi'in, orang-
orang setelah mereka yang
mengikutinya hingga hari kiamat.

Firman Allah swt :

وَأَلَّوِ اسْتَقَامُوا عَلَى الطَّرِيقَةِ
لَأَسْقَيْنَاهُم مَّاء غَدَقًا

Artinya : "Dan bahwasanya:
jikalau mereka tetap berjalan
lurus di atas jalan itu (agama
Islam), benar-benar Kami akan
memberi minum kepada mereka
air yang segar (rezki yang
banyak)." (QS. Al Jin : 16)

Ia adalah tarekat (jalan) yang
satu bukan jalan-jalan lain, ia
adalah jalan satu yang lurus,
jalan yang satu bukan jalan-
jalan yang banyak, firman Allah
swt :

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ
وَلاَ تَتَّبِعُواْ السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن
سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya : "Dan bahwa (yang Kami
perintahkan ini) adalah jalan-Ku
yang lurus, Maka ikutilah Dia,
dan janganlah kamu mengikuti
jalan-jalan (yang lain), karena
jalan-jalan itu mencerai
beraikan kamu dari jalanNya.
yang demikian itu diperintahkan
Allah agar kamu bertakwa." (QS.
Al An'am : 153)

Jalan inilah yang dilalui oleh nabi
kita Muhammad saw dan para
sahabatnya. Karena itu Allah
swt berfirman :

فَإِنْ آمَنُواْ بِمِثْلِ مَا آمَنتُم بِهِ فَقَدِ
اهْتَدَواْ وَّإِن تَوَلَّوْاْ فَإِنَّمَا هُمْ فِي
شِقَاقٍ فَسَيَكْفِيكَهُمُ اللّهُ وَهُوَ
السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Artinya : "Maka jika mereka
beriman kepada apa yang kamu
telah beriman kepadanya,
sungguh mereka telah
mendapat petunjuk; dan jika
mereka berpaling,
Sesungguhnya mereka berada
dalam permusuhan (dengan
kamu). Maka Allah akan
memelihara kamu dari mereka.
dan Dia-lah yang Maha
mendengar lagi Maha
mengetahui." (QS. Al Baqoroh :
137)

Didalam riwayat Tirmidzi dari
Nabi saw bersabda,"Hendaklah
kalian berpegang dengan
sunnahku dan sunnah para
khalifah rasydin yang telah
mendapatkan petunjuk
setelahku. Peganglah itu dan
gigitlah ia dengan graham. Dan
waspadalah kalian dengan
perkara-perkara yang baru,
sesungguhnya setiap bid'ah
adalah sesat."

Pada akhirnya perlu kiranya
mengingatkan dua hal penting :

1. Tidak seyogyanya mengecam
tashawuf secara mutlak. Akan
tetapi di sana terdapat pula
tashawuf yang benar yang
berpegang dengan aturan-
aturan syariat untuk
mensucikan dan membersihkan
jiwa. Inilah yang dilakukan oleh
sebagian ulama, orang-orang
zuhud pada masa-masa awal
sebelum masuknya berbagai
penyimpangan dan bid'ah pada
diri orang-orang tashawwuf
(sufi).

2. Bahwa ilmu tentang keadaan
hati atau yang disebut dengan
Ilmu Suluk tidaklah diambil
kecuali dari orang-orang yang
aqidahnya benar, istiqomah
perbuatannya, mengikatkan
berbagai urusannya dengan al
Qur'an dan Sunnah yang shahih.
Tidaklah sepatutnya melakukan
penipuan dengan perbuatan
sebagian para pelaku bid'ah dan
kerasnya ibadah mereka, maka
perkara ini sebagaimana
dikatakan Sufyan-semoga Allah
merahmatinya -bahwa jika
seseorang melakukan
perbuatan bid'ah maka
sesungguhnya setan telah
melemparkan kepadanya bentuk
ibadah untuk menjaring
mereka." (Markaz al Fatwa,
fatwa No. 13742)

Wallahu A'lam

No Response to "Sesatkah Ajaran Sufi"

Posting Komentar

 
powered by Blogger